Jikalau bisa
memilih, kamu ingin jadi apa ? kakak atau adik ? atau malah nggak dua – duanya,
alias anak tunggal.. Emang sih, kita tidak bisa memilih takdir. Takdir itu ndak
bisa ditebak, ndak ada yang tahu bakal seperti apa jadinya hidup kita. Tapi
memang diantara kita sering ada yang mengeluh dengan takdir yang didapatnya.
Contohnya ya dalam hal tersebut. Ah, ndak enak jadi adik. Mending jadi kakak
aja, bisa nyuruh - nyuruh adik. Pernah tidak berfikir seperti itu?
Aku adalah anak
pertama dari lima bersaudara. So pasti aku punya adik. Dua laki – laki, dan dua
perempuan. Pas. Tapi yang bikin ndak enak jadi anak sulung ya gitu, ndak punya
kakak.. jadi kalau kita salah ndak ada yang membela kita. Waktu kita bertengkar
dengan anak lain misalnya.. Jika kamu setakdir dengan diriku, alias menjadi
anak sulung juga.. Kamu mungkin juga merasakan apa yang aku rasakan. Yah,
sebagai anak paling tua harus selalu mengalah sama adik – adik. Bila orang tua
lagi bawa jajan, trus dibagikan sama
anak – anaknya.. kaum anak sulunglah yang selalu mendapat jatah paling sedikit,
atau bahkan ndak dapat sama sekali. Ngalah karo adi2mu yo le.. pasti itu
yang ortu ucapin. Waktu adik sedang rewel, minta apa gitu sambil nangis –
nangis.. eh, kaum itu juga yang disuruh ndiemin. Itu maksudnya gak mau tahu ama
anaknya atau emang lagi sibuk ?? yaudah, husnudzon ajaa.. J. Trus ada hal bikin aku jengkel dengan adik –
adikku adalah tingkat kenakalan mereka yang melebihi rata – rata. Masyaallah,
rasanya pengen tak jual aja. Yah, walau tak semuanya nakal sih. Tapi emang
sulit buat diatur, padahal sudah lumayan besar. Ah bagaimanapun juga mereka
tetap adik – adikku, dan aku menyayangi mereka. Dan yang paling berat saat
menjadi anak sulung adalah jika menjadi tulang punggung keluarga. Sebagai anak
yang paling besar dan tua, sudah tentu harus bisa memperjuangkan hidup adik –
adiknya. Apalagi jika orang tua sudah meninggal duluan. Rasanya pengen ikut
mati saja, ckck.
Dan tahukah, apa
enaknya jadi kakak? Yang paling aku rasakan adalah kalau aku sangat disayangi
oleh mereka. Keberadaanku dibutuhkan oleh mereka. Saat aku pergi lama dari
rumah, entah itu ke pondok atau kemana.. Kepulanganku ditunggu – tunggu oleh
mereka. Baru saja memasuki pagar kompleks, mereka sudah menjerit – jerit tak
karuan. Tak jarang mereka memeluk. Ah, itu yang bikin aku suka. Apalagi jika
mempunyai adik yang masih kecil. Masih imut dan gemesin. Enak kalau diajak
main. Yah, walaupun seringnya jailin adik kecil sampain si adik nangis sih,
hehe.. Tapi anehnya kalau si adi nangis ada rasa kepuasan sendiri. Aneh... dan
enaknya lagi jika menjadi kakak adalah jadi bisa nyuruh – nyuruh adik, haha.
Bukannya otoriter, tapi memanfaatkan peluang yang ada.
Lalu, bagaimana
perasaan adik – adik kita? Haha, mungkin ya gara – gara si kakak suka nyuruh terus,
si adik jadi sebel. Apalagi kalo nyuruhnya pake bentak – bentak sampe kayak
tentara. Dan mungkin ya mereka sebel juga kalau kakak suka jahilin. Yah,
begitulah.. tapi jadi adik itu enak lho. Apalagi kalau kakaknya sudah besar –
besar, dan sudah punya keluarga sendiri. Yah, paling ndak kan bakal punya
ponakan. Atau ndak ya kalau pengan sesuatu tinggal ngomong sama kakak. Kalau
kakak lagi punya duit, mesti dah dibeliin. Dan tentunya dengan adanya kakak,
adik merasa jadi lebih diperhatikan.. karena kakak lebih sering mengalah untuk
kebahagiaan adiknya.
Tapi, menurutku
yang paling ndak enak ya kalau jadi anak tunggal. Kalau mau main sama siapa?
Anak tetangga ya belum tentu asyik. Gak punya kakak yang bisa membela. Gak
punya adik yang bisa dijahilin. Sendirian. Tapi ya dengan menjadi anak satu –
satunya, kasih sayang ortu bakal terlimpahkan ke dia seorang. Ndak baiknya kalo
terlalu dimanja. Jadi.. kesimpulannya adalah, paling enak jadi anak tengah !!
Hehe, tapi sekali
lagi. Kita tak bisa menentukan takdir. Apa yang kita terima, jalani saja dengan
senyuman. Jangan mengeluh dan jangan banyak berharap. Qona’ah adalah jalan
terbaik.. Cayoo and wassalam


0 komentar:
Posting Komentar